Jumat, 20 Mei 2011

KETEGARAN HATI A Long

Seorang anak yatim piatu berusia enam tahun yang mengidap HIV hidup sebatang kara di gunung, Guangxi, China

Jadi begini  mencoba untuk menyingkat bacaan yang udah ada di Nyat* edisi 1 April 2011 di halaman 36-37.

Lokasi tempatnya ada di Kota Liuzhou, Guangxi, China menyimpan kawasan berbukit-bukit yang indah. Salah satunya Niuchepin di kaki Gunung Malu. Nah disalah satu rumah kecil yang terpencil, dan harus ditempuh dari jalan setapak. Rumah ini gak berjendela, tumpukan batu bata jadi tungku masak, dan di depannya ada ruang tidur. Nah disini nih tuh bocah tinggal gak punya sapa2 dijauhin temen2nya, namanya A Long (6thn). Orang tua dah meninggal karena HIV AIDS, dan A Long dinyatakan positive terkena HIV. Sejak jadi yatim piatu A Long hidup sendiri, dari bangun, mencuci pakaian, memberi makan ayam, anjing, masak, belajar sendiri.

Dijauhi Warga

Untuk makanpun nih di masak nasi sendiri, pas udh 10 menit dimasukin nih sayuran (btw sayuran ama daun bawang ditanem ama neneknya dideket rumah), setelah makananpun siap disajikan. A Long sangat menikmatinya. Sehari-hari A Long menghabiskan harinya dengan main dengan ayam atau anjing kesayangannya Lao Hei atau si Hitam. Biasanya dia main kejar-kejaran bersama Lao Hei atau gak cuma duduk liat ke jalan menuju dunia luar yang gak pernah dia lihat seperti apa. Anjing ini paling setia menemani A Long bahkan pintu kamarnyapun gak pernah ditutup karena A Long merasa aman denga keberadaan Lao Hei (si Hitam) yang selalu senantiasa jaga di pintu rumah. Setiap kali A Long memanggil Lao Hei, Anjing ini pun langsung mengitari A Long dan akhirnya berpelukan dan A Long pun merasa senang dan tersenyum.

Ibunya meninggal setahun yang lalu, dan ayahnya meninggal bulan juli 2010. Yang paling setia menemani ayahnya sampai dipanggil yang kuasapun adalah A Long yang tetap tegar dan tidak menangis. "Paman ayah saya meninggal seperti ibu saya." katanya kepada wartawan. Hingga hari kedua ayahnya meninggal akhirnya datang bantuan dan ayahnya dapat dimakamkan.

Batal Mengadopsi

Sebenernya A Long sudah mw diadopsi oleh keluarga lain namun karena diketahui dikemudian ternyata A Long mengidap HIV akhirnya mereka mundur dan tidak jadi mengadopsi A Long. Hanya neneknya yang bersedia berkunjung ke Rumah A Long itupun tidak setiap hari. Saat neneknya datang itulah saat A Long dapat bermain lama, karena neneknya biasanya memasakan makanan seblum pulang, untuk hal mandi ataupun mencuci bisa dilakukannya sendiri. "Asal ada bangku menjemur pakaian beres," ujarnya. Kenapa neneknya tidak tinggal bersama A Long? itu dikarenakan ternyata Nenek A Long sedikit takut akan tertular HIV.

A Long sendiri tidak tahu apa itu HIV/AIDS, bahkan tidak tahu dia membawa virus HIV/AIDS, yang dia tahu temen2nya ngejauhin dia gara2 takut celaka, atau dilarang. Dan dia sudah dikeluarkan dari sekolah karena banyak wali murid yang menuntut kepala sekolah untuk mengeluarkannya.

Ada cerita tentang saat dia masak, "tangannya terbakar saat memasak, tak seorangpun tahu, selang sehari ada warga yang membawanya ke klinik, tapi klinik tidak bersedia mengobati, jadi karena hal itu kami hanya mengoleskan salep Merbromin (semacam antiseptic)," kata seorang warga

A Long sangat butuh bantuan tapi pemerintah desa hanya bisa menjamin makanan dan pakaian. Ada juga beberapa dermawan memberikan bantuan. Departemen sosial, hanya memberikan jaminan kesejahteraan, dan keamanan sosial. Tahun lalu dia mendapat 70yuan per bulan, tahun ini dia mendapt 100 yuan (Rp. 133.000)per bulan. Hal ini masih jauh dari cukup karena hal pendidikan dan kesehatan belum dijamin.

Anak Yang Tegar

Kalau sudah begini anak ini tanggung jawab siapa? LSM sudah dihubungi namun LSMpun berharap dari keluarga dibujuk untuk mengadopsi karena dari segi manapun kasih sayang keluarga sangat dibutuhkan.

Di saat orang sekita belum bisa berbuat banyak untuk dia namun A Long tetap tegar. Dia merasa memiliki ayam, anjing, nenek, dan orang-orang baik yang kadang mengunjungi. Bagi A Long itu sudah cukup.

Bayangkan anak sekecil ini dan semenderita ini masih bisa tertawa saat bersama anjingnya. A Long tetap menyantap makanannya walupun tanpa minyak dan garam, dia tetap memakannya dengan semangat. dia bertanya kapan dia mendapat kasih sayang, kapan dia bisa jadi anak 'normal'? namun semuanya itu dijawan dengan ketegarannya.

Spoiler for sedikit fotonya:







A Long belajar membaca sendiri

Masakan nasi dan sayur ala A Long

Manggul kayu buat kayu bakar
Quote:

 cuma mw coba mengingatkan kita  sekalian, yang masih saja mau menghambur-hamburkan uang, yang cuma mw hura-hura, yang masih mw menyesali kenapa hidupnya seperti saat ini, tidak puas akan kondisi saat ini, tidak pernah mw liat kehidupan wong cilik, masih bilang dijauhi teman-teman, masih mw bilang makanan gak enak, masih mw bilang orang tua gak sayang, masih mw bolos sekolah? kerja malas-malasan??

Coba kia sekalian liat kembali kehidupan anak tersebut dijauhi, gak dpt kasih sayang, berjuang untuk survive, dan masih ingin merasakan dunia luar seperti apa. Masih bercita-cita. sendangkan kita yang bercukupan, masih bisa dpt kasih sayang, masih bisa hidup setidaknya dengan layak, masih saja mengeluh keluh kesah? tak bersyukur kepada ALLAH SWT , kita bisa liat anak kecil 6 tahun gak punya apa-apa gak punya siapa-siapa tapi masih tetep bisa tersenyum dan berusaha.


bulan terbelah

Mukjizat nabi Muhammad membelah bulan

bulan1Mungkin bisa menjadi pelajaran bagi kita semua..

Assalamu'alaikum wr wb Terlampir adalah foto bulan dari koleksi NASA. Semoga hal itu akan semakin menyempurnakan keyakinan kita terhadap kekuasan Allah (swt) dan kerasulan nabi Muhammad (saw). Dalam Bukhari dan Muslim, juga dalam kitab2 hadits yang terkenal lainnya, diriwayatkan bahwa sebelum Rasulullah (saw) hijrah, berkumpullah tokoh2 kafir Quraiy, seperti Abu Jahal, Walid bin Mughirah dan Al 'Ash bin Qail. Mereka meminta kepada nabi Muhammad (saw) untuk membelah bulan. Kata mereka, "Seandainya kamu benar2 seorang nabi, maka belahlah bulan menjadi dua." Rasulullah (saw) berkata kepada mereka, "Apakah kalian akan masuk Islam jika aku sanggup melakukannya?" Mereka menjawab, "Ya." Lalu Rasulullah (saw) berdoa kepada Allah agar bulan terbelah menjadi dua. Rasulullah (saw) memberi isyarat dengan jarinya, maka bulanpun terbelah menjadi dua. Selanjutnya sambil menyebut nama setiap orang kafir yang hadir, Rasulullah (saw) berkata, "Hai Fulan, bersaksilah kamu. Hai Fulan, bersaksilah kamu." Demikian jauh jarak belahan bulan itu sehingga gunung Hira nampak berada diantara keduanya. Akan tetapi orang2 kafir yang hadir berkata, "Ini sihir!" padahal semua orang yang hadir menyaksikan pembelahan bulan tersebut dengan seksama. Atas peristiwa ini Allah (swt) menurunkan ayat Al Qur'an: " Telah dekat saat itu (datangnya kiamat) dan bulan telah terbelah. Dan jika orang2 (kafir) menyaksikan suatu tanda (mukjizat), mereka mengingkarinya dan mengatakan bahwa itu adalah sihir." (QS Al Qomar 54:1-2) Subhanallah. Subhan ibn Abdullah Laem Chabang, 09/02/2005 . Telah Dekat Kiamat, Bulan Telah Terbelah Allah berfirman: "Sungguh telah dekat hari kiamat, dan bulan pun telah terbelah." (Q.S. Al-Qamar: 1) Apakah kalian akan membenarkan ayat Al-Qur'an ini yang menyebabkan masuk Islamnya pimpinan Hizb Islami Inggris? Di bawah ini adalah kisahnya.

Dalam temu wicara di televisi bersama pakar Geologi Muslim, Prof.Dr.Zaghlul Al-Najar, salah seorang warga Inggris mengajukan pertanyaan kepadanya, apakah ayat dari surat Al-Qamar di atas memiliki kandungan mukjizat secara ilmiah? Maka Prof. Dr. Zaghlul Al-Najar menjawabnya sebagai berikut: Tentang ayat ini, saya akan menceritakan sebuah kisah. Beberapa waktu lalu, saya mempresentasikan hal itu di University Cardif, Inggris bagian Barat. Para peserta yang hadir ber-macam2, ada yang muslim dan ada juga yang bukan muslim. Salah satu tema diskusi waktu itu adalah seputar mukjizat ilmiah dari Al-Qur'an. Salah seorang pemuda yang beragama muslim pun berdiri dan bertanya, " Wahai Tuan, apakah menurut anda ayat yang berbunyi "Telah dekat hari qiamat dan bulan pun telah terbelah" mengandung mukjizat secara ilmiah? Maka saya menjawabnya: Tidak, sebab kehebatan ilmiah diterangkan oleh ilmu pengetahuan, sedangkan mukjizat tidak bisa diterangkan ilmu pengetahuan, sebab ia tidak bisa menjangkaunya. Dan tentang terbelahnya bulan, maka hal itu adalah mukjizat yang terjadi pada masa Rasul terakhir Muhammad shallallahu 'alaihi wassalam, sebagai pembenaran atas kenabian dan kerasulannya, sebagaimana nabi2 sebelumnya. Dan mukjizat yang kelihatan, maka itu disaksikan dan dibenarkan oleh setiap orang yang melihatnya. Andai hal itu tidak termaktub di dalam kitab Allah dan hadits2 Rasulullah, maka tentulah kami para muslimin di zaman ini tidak akan mengimani hal itu. Akan tetapi hal itu memang benar termaktub di dalam Al-Qur'an dan hadits2 Rasulullah shallallahu alaihi wassalam. Dan memang Allah ta'alaa benar2 maha berkuasa atas segala sesuatu. Maka Prof. Dr. Zaghlul Al-Najar pun mengutip sebuah kisah Rasulullah membelah bulan. Kisah itu adalah sebelum hijrah dari Mekah Mukarramah ke Madinah Munawarah. Orang2 musyrik berkata, "Wahai Muhammad, kalau engkau benar Nabi dan Rasul, coba tunjukkan kepada kami satu kehebatan yang bisa membuktikan kenabian dan kerasulanmu (dengan nada mengejek dan meng-olok2)?" Rasulullah bertanya, "Apa yang kalian inginkan?" Mereka menjawab, "Coba belah bulan…" Rasulullah pun berdiri dan terdiam, berdoa kepada Allah agar menolongnya. Lalu Allah memberitahu Muhammad SAW agar mengarahkan telunjuknya ke bulan. Rasulullah pun mengarahkan telunjuknya ke bulan dan terbelahlah bulan itu dengan se-benar2-nya. Serta-merta orang2 musyrik pun berujar, "Muhammad, engkau benar2 telah menyihir kami!" Akan tetapi para ahli mengatakan bahwa sihir, memang benar bisa saja "menyihir" orang yang ada disampingnya akan tetapi tidak bisa menyihir orang yang tidak ada di tempat itu. Lalu mereka pun menunggu orang2 yang akan pulang dari perjalanan. Orang2 Quraisy pun bergegas menuju keluar batas kota Mekkah menanti orang yang baru pulang dari perjalanan. Dan ketika datang rombongan yang pertama kali dari perjalanan menuju Mekkah, orang2 musyrik pun bertanya, "Apakah kalian melihat sesuatu yang aneh dengan bulan?" Mereka menjawab, "Ya, benar. Pada suatu malam yang lalu kami melihat bulan terbelah menjadi dua dan saling menjauh masing2-nya kemudian bersatu kembali…" Maka sebagian mereka pun beriman, dan sebagian lainnya lagi tetap kafir ingkar). Oleh karena itu, Allah menurunkan ayat-Nya: "Sungguh, telah dekat hari qiamat, dan telah terbelah bulan, dan ketika melihat tanda2 kebesaran Kami, merekapun ingkar lagi berpaling seraya berkata, "Ini adalah sihir yang terus-menerus", dan mereka mendustakannya, bahkan mengikuti hawa nafsu mereka. Dan setiap urusan benar-benar telah tetap… (sampai akhir surat Al-Qamar). Ini adalah kisah nyata, demikian kata Prof. Dr. Zaghlul Al-Najar.

Dan setelah selesainya Prof. Dr. Zaghlul menyampaikan hadits nabi tersebut, berdiri seorang muslim warga Inggris dan memperkenalkan diri seraya berkata, "Aku Daud Musa Pitkhok, ketua Al-Hizb Al-Islamy Inggris. Wahai Tuan, bolehkah aku menambahkan?" Prof. Dr. Zaghlul Al-Najar menjawab:"Dipersilahkan dengan senang hati." Daud Musa Pitkhok berkata, "Aku pernah meneliti agama2 (sebelum menjadi muslim), maka salah seorang mahasiswa muslim menunjukiku sebuah terjemah makna2 Al-Qur'an yang mulia. Maka, aku pun berterima kasih kepadanya dan aku membawa terjemah itu pulang ke rumah. Dan ketika aku mem-buka2 terjemahan Al-Qur'an itu di rumah, maka surat yang pertama aku buka ternyata Al-Qamar. Dan aku pun membacanya: "Telah dekat hari qiamat dan bulan pun telah terbelah…" Aku bergumam: Apakah kalimat ini masuk akal? Apakah mungkin bulan bisa terbelah kemudian bersatu kembali? Andai benar, kekuatan macam apa yang bisa melakukan hal itu? Maka, aku pun berhenti membaca ayat2 selanjutnya dan aku menyibukkan diri dengan urusan kehidupan se-hari2. Akan tetapi Allah maha tahu tentang tingkat keikhlasam hamba-Nya dalam pencarian kebenaran. Suatu hari aku duduk di depan televisi Inggris. Saat itu ada sebuah diskusi antara seorang presenter Inggris dan 3 orang pakar ruang angkasa AS. Ketiga pakar antariksa tersebut bercerita tentang dana yang begitu besar dalam rangka melakukan perjalanan ke antariksa, padahal saat yang sama dunia sedang mengalami masalah kelaparan, kemiskinan, sakit dan perselisihan. Presenter berkata, "Andaikan dana itu digunakan untuk memakmurkan bumi, tentulah lebih banyak gunanya." Ketiga pakar itu pun membela diri dengan proyek antariksanya dan berkata, "Proyek antariksa ini akan membawa dampak yang sangat positif pada banyak segmen kehidupan manusia, baik pada segi kedokteran, industri ataupun pertanian. Jadi pendanaan tersebut bukanlah hal yang sia2, akan tetapi hal itu dalam rangka pengembangan kehidupan manusia." Dalam diskusi tersebut dibahas tentang turunnya astronot hingga menjejakkan kakinya di bulan, dimana perjalanan antariksa ke bulan tersebut telah menghabiskan dana tidak kurang dari 100 juta dollar. Mendengar hal itu, presenter terperangah kaget dan berkata, "Kebodohan macam apalagi ini, dana yang begitu besar dibuang oleh AS hanya untuk bisa mendarat di bulan? " Mereka pun menjawab, "Tidak! Tujuannya tidak semata menancapkan ilmu pengetahuan AS di bulan, akan tetapi kami mempelajari kandungan yang ada di dalam bulan itu sendiri, maka kami pun telah mendapat hakikat tentang bulan itu, yang jika kita berikan dana lebih dari 100 juta dollar untuk kesenangan manusia, maka kami tidak akan memberikan dana itu kepada siapapun." Mendengar hal itu, presenter itu pun bertanya, "Hakikat apa yang kalian telah capai hingga demikian mahal taruhannya?" Mereka menjawab, " Ternyata bulan pernah mengalami pembelahan di suatu hari dahulu kala, kemudian menyatu kembali! Presenter pun bertanya, "Bagaimana kalian bisa yakin akan hal itu?" Mereka menjawab, "Kami mendapati secara pasti dari batu2-an yang terpisah (katrena) terpotong di permukaan bulan sampai di dalam (perut) bulan. Kami meminta para pakar geologi untuk menelitinya, dan mereka mengatakan, "Hal ini tidak mungkin terjadi kecuali jika memang bulan pernah terbelah lalu bersatu kembali!" Mendengar paparan itu, ketua Al-Hizb Al-Islamy Inggris mengatakan, " Maka aku pun turun dari kursi dan berkata, 'Mukjizat (kehebatan) benar2 telah terjadi pada diri Muhammad shallallahu alaihi wassallam 1400-an tahun yang lalu. Allah benar2 telah meng-olok2 AS untuk mengeluarkan dana yang begitu besar, hingga 100 juta dollar, hanya untuk menetapkan akan kebenaran muslimin! Agama Islam ini tidak mungkin salah… Lalu aku pun kembali membuka Mushhaf Al-Qur'an dan aku baca surat Al-Qamar. Dan saat itu adalah awal aku menerima dan masuk Islam."

bulan2Diterjemahkan oleh: Abu Muhammad ibn Shadiq (Sabtu, 22 Sya'ban1424H/18-10-2003M) Posted in: on Monday, August 28, 2006 at at 3:51 AM

Filed under: Uncategorized Ditandai: | , , , ,

Minggu, 24 April 2011

jangan tunggu ikhlas

Sedekah itu seikhlasnya" kalimat itu biasanya yang saya gunakan kalo diminta sumbangan. "Maksudnya seikhlasnya apa sih pak" tanya temen saya, "kalo ada uang ya ngasih kalo gak ada uang ya jangan dipaksakan", jawab saya. " sering sedekah?" tanya temen saya, " ya karena jarang punya uang ya jarang", jawab saya. " Lagian juga kalo punya uang kalo ngasihnya gak ikhlas percuma aja gak ada pahalanya", saya nambahin.

Lain waktu,
"Pak ada mobil keliling yang suka minta sumbangan tuh di depan rumah", kata anak saya, "Bilangin gak ada ", jawab saya. "Belum tentu dananya juga bener disalurkan jangan2 dipake sendiri, daripada ngasihnya gak ikhlas mendingan gak usah aja" kata hati saya.

Lain waktu lagi,
"Pak nih ada edaran dari Panitia Pembangunan Mesjid di kompleks Bapak diminta jadi donatur untuk pembangunan Mesjid", kata istri saya. "Males ah, nyumbang pake diumumin segala, itu riya namanya nanti gak ikhlas jadinya", jawab saya.

Kata "ikhlas" menjadi senjata pamungkas saya sebagai tameng untuk tidak memberi.
Percuma memberi kalo gak ikhlas, dan sialnya ikhlas itu lama banget datangnya ke diri saya sehingga bertahun tahun saya menjadi orang yang jarang memberi.

Pertemuan saya dengan komunitas TDA di Milad 3 yang menghadirkan Ustad Lihan mengubah pola pikir saya dalam bersedekah. Buku2 dan ceramah Ustad Yusuf Mansur serta tulisan Ippho Santosa banyak memberi wawasan baru mengenai nilai2 sedekah.

Untuk bersedekah sebenarnya gak usah nunggu ikhlas dulu, lakukan aja sesering mungkin. Bisa saja dalam 10 kali kita bersedekah yang 6 tidak ikhlas awalnya tapi masih lumayan ada 4 yang ikhlas. Dan kalo sering bersedekah lama2 akan jadi kebiasaan sehingga Nilai ikhlasnya sudah lebih banyak lagi yang pada akhirnya nanti bersedekah itu sudah menjadi kebiasaan sehari2.

Kalo bersedekah ada unsur riya juga lakukan aja, toh yang rugi diri kita sendiri kalo yang menerima sih masih bisa merasakan kebahagian. Lumayan masih tidak merugikan orang lain.

Semua kegiatan yang baik memang awalnya harus dipaksa dulu sambil jalan diharapkan kesadaran mulai muncul.

Coba simak;
Sholat itu harus khusyu, memang kalo gak khusyu gak usah sholat?
Puasa itu harus bisa menjaga hawa nafsu, memang kalo gak bisa menjaga hawa nafsu gak usah puasa?

Bukannya lebih baik;
Sholat aja dulu nanti juga lama2 bisa khusyu
Puasa aja dulu nanti juga lama2 bisa menahan hawa nafsu
Sedekah aja dulu nanti juga lama2 bisa ikhlas.....

Jadi untuk bersedekah ternyata gak usah nunggu ikhlas dulu yang penting lakukan saja jangan dipikir jangan dihitung....

..Just Action !!!

Sabtu, 23 April 2011

jangan salah jihad

Kaum muslimin –semoga Allah menjaga aqidah kita dari kesalahpahaman- sesungguhnya menunaikan jihad dalam pengertian dan penerapan yang benar termasuk ibadah yang mulia. Sebab Allah telah memerintahkan kaum muslimin untuk berjihad melawan musuh-musuh-Nya. Allah berfirman (yang artinya), "Hai Nabi, berjihadlah melawan orang-orang kafir dan orang-orang munafiq, dan bersikaplah keras kepada mereka..." (QS. At-Taubah: 9). Karena jihad adalah ibadah, maka untuk melaksanakannya pun harus terpenuhi 2 syarat utama: (1) ikhlas dan (2) sesuai tuntunan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. Yang menjadi pertanyaan sekarang adalah fenomena pengeboman yang dilakukan oleh sebagian pemuda Islam di tempat maksiat yang dikunjungi oleh turis asing yang notabene orang-orang kafir. Benarkah tindakan bom bunuh diri di tempat semacam itu termasuk dalam kategori jihad dan orang yang mati karena aksi tersebut -baik pada saat hari-H maupun karena tertangkap aparat dan dijatuhi hukuman mati- boleh disebut orang yang mati syahid?

 

Bom Bunuh Diri Bukan Jihad

Allah ta'ala berfirman (yang artinya), "Dan janganlah kalian membunuh diri kalian, sesungguhnya Allah Maha menyayangi kalian." (QS. An-Nisaa': 29)

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Barangsiapa yang bunuh diri dengan menggunakan suatu alat/cara di dunia, maka dia akan disiksa dengan cara itu pada hari kiamat." (HR. Bukhari dan Muslim). Adapun bunuh diri tanpa sengaja maka hal itu diberikan udzur dan pelakunya tidak berdosa berdasarkan firman Allah 'azza wa jalla (yang artinya), "Dan tidak ada dosa bagi kalian karena melakukan kesalahan yang tidak kalian sengaja akan tetapi (yang berdosa adalah) yang kalian sengaja dari hati kalian."(QS. Al-Ahzab: 5). Dengan demikian aksi bom bunuh diri yang dilakukan oleh sebagian orang dengan mengatasnamakan jihad adalah sebuah penyimpangan (baca: pelanggaran syari'at). Apalagi dengan aksi itu menyebabkan terbunuhnya kaum muslimin atau orang kafir yang dilindungi oleh pemerintah muslimin tanpa alasan yang dibenarkan syari'at.

Allah berfirman (yang artinya), "Dan janganlah kalian membunuh jiwa yang Allah haramkan kecuali dengan alasan yang benar."(QS. Al-Israa': 33)

 

Membunuh Muslim Dengan Sengaja dan Tidak

 

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Tidak halal menumpahkan darah seorang muslim yang bersaksi tidak ada sesembahan (yang benar) selain Allah dan bersaksi bahwa aku (Muhammad) adalah Rasulullah kecuali dengan salah satu dari tiga alasan: [1] nyawa dibalas nyawa (qishash), [2] seorang lelaki beristri yang berzina, [3] dan orang yang memisahkan agama dan meninggalkan jama'ah (murtad)." (HR. Bukhari  Muslim)

Beliau juga bersabda, "Sungguh, lenyapnya dunia lebih ringan bagi Allah daripada terbunuhnya seorang mukmin tanpa alasan yang benar." (HR. Al-Mundziri, lihat Sahih At-Targhib wa At-Tarhib). Hal ini menunjukkan bahwa membunuh muslim dengan sengaja adalah dosa besar.

Dalam hal membunuh seorang mukmin tanpa kesengajaan, Allah mewajibkan pelakunya untuk membayar diyat/denda dan kaffarah/tebusan. Allah ta'ala berfirman (yang artinya), "Tidak sepantasnya bagi orang mukmin membunuh mukmin yang lain kecuali karena tidak sengaja. Maka barangsiapa yang membunuh mukmin karena tidak sengaja maka wajib baginya memerdekakan seorang budak yang beriman dan membayar diyat yang diserahkannya kepada keluarganya, kecuali apabila keluarganya itu berkenan untuk bersedekah (dengan memaafkannya)." (QS. An-Nisaa': 92). Adapun terbunuhnya sebagian kaum muslimin akibat tindakan bom bunuh diri, maka ini jelas tidak termasuk pembunuhan tanpa sengaja, sehingga hal itu tidak bisa dibenarkan dengan alasan jihad.

 

Membunuh Orang Kafir Tanpa Hak

Membunuh orang kafir dzimmi, mu'ahad, dan musta'man (orang-orang kafir yang dilindungi oleh pemerintah muslim), adalah perbuatan yang haram. Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Barangsiapa yang membunuh jiwa seorang mu'ahad (orang kafir yang memiliki ikatan perjanjian dengan pemerintah kaum muslimin) maka dia tidak akan mencium bau surga, padahal sesungguhnya baunya surga bisa tercium dari jarak perjalanan 40 tahun." (HR. Bukhari).

Adapun membunuh orang kafir mu'ahad karena tidak sengaja maka Allah mewajibkan pelakunya untuk membayar diyat dan kaffarah sebagaimana disebutkan dalam ayat (yang artinya), "Apabila yang terbunuh itu berasal dari kaum yang menjadi musuh kalian (kafir harbi) dan dia adalah orang yang beriman maka kaffarahnya adalah memerdekakan budak yang beriman, adapun apabila yang terbunuh itu berasal dari kaum yang memiliki ikatan perjanjian antara kamu dengan mereka (kafir mu'ahad) maka dia harus membayar diat yang diserahkan kepada keluarganya dan memerdekakan budak yang beriman. Barangsiapa yang tidak mendapatkannya maka hendaklah berpuasa dua bulan berturut-turut supaya taubatnya diterima oleh Allah. Allah Maha mengetahui lagi Maha bijaksana." (QS. An-Nisaa': 92)

 

Bolehkah Mengatakan Si Fulan Syahid?

Di dalam kitab Sahihnya yang merupakan kitab paling sahih sesudah Al-Qur'an, Bukhari rahimahullah menulis bab berjudul "Bab: Tidak boleh mengatakan si fulan Syahid" berdalil dengan sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, "Allah yang lebih mengetahui siapakah orang yang benar-benar berjihad di jalan-Nya, dan Allah yang lebih mengetahui siapakah orang yang terluka di jalan-Nya." (Sahih Bukhari, cet. Dar Ibnu Hazm, hal. 520)

Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah menerangkan (Fath Al-Bari, jilid 6 hal. 90. cet. Dar Al-Ma'rifah Beirut.  Asy-Syamilah), "Perkataan beliau 'Tidak boleh mengatakan si fulan syahid', maksudnya tidak boleh memastikan perkara itu kecuali didasari dengan wahyu..."

Al-'Aini rahimahullah juga mengatakan, "Maksudnya tidak boleh memastikan hal itu (si fulan syahid, pent) kecuali ada dalil wahyu yang menegaskannya." (Umdat Al-Qari, jilid 14 hal. 180. Asy-Syamilah)

Nah, sebenarnya perkara ini sudah jelas. Yaitu apabila ada seorang mujahid yang berjihad dengan jihad yang syar'i kemudian dia mati dalam peperangan maka tidak boleh dipastikan bahwa dia mati syahid, kecuali terhadap orang-orang tertentu yang secara tegas disebutkan oleh dalil!

 

Maka keterangan Bukhari, Ibnu Hajar, dan Al-'Aini -rahimahumullah- di atas dapat kita bandingkan dengan komentar Abu Bakar Ba'asyir -semoga Allah menunjukinya- terhadap para pelaku bom Bali, "... Amrozi dan kawan-kawan ini memperjuangkan keyakinan di jalan Allah karena itu saya yakin dia termasuk mati sahid," tegasnya dalam orasi di Pondok Pesantren Al Islam, Sabtu (8/11/2008)." (sebagaimana dikutip Okezone.com.news)

 

Kalau orang yang benar-benar berjihad dengan jihad yang syar'i saja tidak boleh dipastikan sebagai syahid -selama tidak ada dalil khusus yang menegaskannya- lalu bagaimanakah lagi terhadap orang yang melakukan tindak perusakan di muka bumi tanpa hak dengan mengatasnamakan jihad -semoga Allah mengampuni dosa mereka yang sudah meninggal dan menyadarkan pendukungnya yang masih hidup-... Ambillah pelajaran, wahai saudaraku...

 

Sebagai penutup, kami mengingatkan kepada para pemuda untuk bertakwa kepada Allah dan menjauhkan diri mereka dari tindakan-tindakan yang akan menjerumuskan mereka ke dalam neraka. Allah ta'ala berfirman (yang artinya), "Maka takutlah kalian terhadap neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu." (QS. Al-Baqarah: 24). Sadarlah wahai saudara-saudaraku dari kelalaian kalian, janganlah kalian menjadi tunggangan syaitan untuk menebarkan kerusakan di atas muka bumi ini. Kami berdoa kepada Allah 'azza wa jalla agar memahamkan kaum muslimin tentang agama mereka, dan menjaga mereka dari fitnah menyesatkan yang tampak ataupun yang tersembunyi. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada hamba dan utusan-Nya Muhammad, para pengikutnya, dan segenap para sahabatnya.

 

Menurut akal dan agama siapa; tindakan pengeboman dan penghancuran dinilai sebagai jihad?! Sungguh celaka kalian... Sadarlah hai para pemuda!!) di web Islamspirit.com

Jumat, 22 April 2011

bisnis berkah

Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda,

Barangsiapa yang membantu menghilangkan satu kesedihan (kesusahan) dari sebagian banyak kesusahan orang mukmin ketika didunia maka Allah akan menghilangkan satu kesusahan (kesedihan) dari sekian banyak kesusahan dirinya pada hari kiamat kelak.

Dan barangsiapa yang memberikan kemudahan (membantu) kepada orang yang kesusahan, niscaya Allah akan membantu memudahkan urusannya didunia dan di akhirat.

Dan barangsiapa yang menutup aib orang muslim , niscaya Allah akan menutup aibnya dunia dan akhirat.

Sesungguhnya Allah akan selalu menolong seorang hamba selama dia gemar menolong saudaranya. (HR. Muslim)

Di tengah acara sebuah komunitas wirausaha Muslim terjadi sebuah dialog untuk membangun dan mencari solusi ekonomi ummat, banyak hal yang dibahas tentang bagaimana membuka peluang usaha dan perlunya bersaing secara profesional dengan para pengusaha 'non Muslim' yang saat ini begitu menguasai perekonomian negeri ini, diskusi lama lama terkesan sangat teoritis, dan beberapa dari mereka terjebak kearah materialistik cara pandangnya, padahal semua yang hadir adalah kaum muslimin juga, tapi ternyata kami semua lupa, bahwa yang hadir tersebut memiliki warisan yang tak ternilai harganya. Ternyata umat Islam sudah memiliki rumusan dan standar usaha yang telah di bimbing oleh Rasul SAW dan dicontohkan oleh para sahabatnya ra, bimbingan yang sederhana, bimbingan yang sangat mendarat dan manusiawi, penuh fitrah, penuh sunnatullah, dan di-support dengan janji Allah. Allah melibatkan diriNYa atas janjiNya.

Berdasarkan hadis shahih di atas, mari kita urai dan tinjau agar mendapatkan makna dan rumusan agar urusan ujian manusia maupun bisnis muslim ini dapat melibatkan dan tertolong oleh bantuan Allah, sebagai berikut :

“Barangsiapa yang membantu menghilangkan satu kesedihan (kesusahan) dari sebagian banyak kesusahan orang mukmin ketika didunia maka Allah akan menghilangkan satu kesusahan (kesedihan) dari sekian banyak kesusahan dirinya pada hari kiamat kelak”

Siapa sih manusia yang tidak mengalami ujian dan cobaan dalam kehidupannya. Apalagi dalam menjalankan bisnis, ujian naik turun itu menjadi suatu hal yang berulang terjadinya. Ketahuilah setiap hamba Allah pasti mengalami masalah, mengalami kedukaan maupun kesukacitaan , tidak ada satupun yang terlepas dari seleksi Allah. Ujian dan cobaan kepada hamba Allah tersebut untuk menguji siapa yang lebih baik amalnya.

Justru menurut hadist di atas, dan itu adalah sunnah Allah, dikala kita mengalami kesulitan dan kesusahan dalam menghadapi ujian kehidupan, dan kita berharap sekali untuk diangkat kesulitan oleh Allah, justru salah satu solusinya adalah dengan membantu dan menyelesaikan kesusahan hamba yang lain. konsep ini sangat sulit dipahami dengan ilmu keduniaan, apalagi ilmu matematis. tapi inilah hukum Allah, inilah sunnatuLlah. inilah cara agar Allah terlibat! Mulailah dengan cara ini, niscaya permasalahan perekonomian umat akan tuntas.

Ingatlah sebuah contoh nyata yang pernah diabadikan dalam kisah sahabat Abdurrahman bin Auf ra dengan dipersaudarakan Saad bin Rabi ra dari Madinah.

Berkatalah Saad kepada Abdurrahman, Wahai saudaraku, aku adalah penduduk madinah yang kaya raya. Silahkan pilih separuh hartaku dan ambillah, dan aku mempunyai dua isteri, pilihlah salah satu yang menurut anda lebih menarik,dan akan aku ceraikan dia supaya anda bisa memperisterinya.

Jawab Abdurrahman bin Auf, “Semoga Allah memberkati anda, isteri anda dan harta anda. Tunjukkanlah jalan menuju pasar.”

Kemudian abdurrahman menuju pasar, membeli, berdagang dan mendapat untung besar, ketahuilah Allah terlibat! Allah berkahi saling tolong menolong tersebut, saling mendahulukan kepentingan saudaranya.

Pada suatu hari ia mendengar Rasulullah SAW, “Wahai Ibnu Auf, anda termasuk golongan orang kaya, dan anda akan masuk surga secara perlahan lahan. Pinjamkanlah kekayaan itu kepada Allah, pasti Allah mempermudah jalan anda,” semenjak ia mendengar nasehat Rasulullah Saw tersebut, ia mengadakan pinjaman yang baik, maka Allah pun memberi ganjaran padanya dengan berlipatganda.

Ibnu Auf adalah seorang pemimpin yang mengendalikan hartanya, bukan seorang budak yang dikendalikan oleh hartanya. Sebagai buktinya, ia tidak mau celaka dengan menyimpannya. Ia mengumpulkannya dengan santai dan dari jalan yang halal, tetapi ia tidak menikmati sendirian, keluarga, kerabat saudara dan masyarakat pun ikut menikmatinya. Karena begitu luas pemberian serta pertolongannya, orang orang madinah pernah berkata: "seluruh penduduk madinah berserikat (menjalin usaha) dengan Abdurrahman bin Auf pada hartanya. Sepertiga dipinjamkannya kepada mereka, sepertiganya digunakan untuk membayar hutang hutang mereka, dan sepertiga sisanya diberikan dan dibagi bagikan kepada mereka."

Mereka saling mendahulukan kepentingan saudaranya, Allah bukakan keberkahan, Allah bukakan peluang menguasai ekonomi ummat, Pasar Madinah yang tadinya dikuasai yahudi berpindah ke tangan muslimin, berawal dari sikap tolong-menolong (ta'awun) sesama muslimin, bermula dari saling memecahkan masalah saudaranya, menjadi penguasa ekonomi saat itu, inilah hukum Allah, inilah sunnatullah.

Inilah cara melibatkan Allah... bukan dengan cara bersaing dengan pebisnis non-muslim melalui sistem yang dibuat oleh non-muslim juga, MUSTAHIL akan tampil. Bila ingin ummat ini kembali lagi menuju kejayaannya tidak pernah terjadi dan unggul melalui sistem buatan manusia. Kalau mau tampil harus kembali bersandarkan kepada SunnatuLLah dan Sunnah RasulNya.

Pembahasan ini membuat terhenyak para wirausaha yang hadir, diskusi terhenti dan terhenyak diam, ...semoga para peserta diskusi berfikir ulang dan mulai menapak tilas sunnah yang pernah dilakukan untuk membenahi kekuatan ekonomi ummat... Tolonglah sudaramu yang sedang kesulitan....

frm eramuslim

Rabu, 29 September 2010

kalam illahi

Al Qur'an dan Hadits Yang Penting Diketahui.

"Innasysyaithana lakum aduwwun fattakhi dzuhu aduwwa".

"Sesungguhnya Syaitan itu musuhmu, maka waspadalah selalu dari tipu-daya musuh itu !" ( QS. Al-Fathir : 6 )

Sabda Nabi SAW :

"Cinta Pada Dunia itu Pokok ( bibit / sumber ) segala dosa / kejahatan".

"Inna Allaha ma'alladzinat taqau, waladzina hum muhsinun"

Sesungguhnya Allah selalu menolong / membantu orang-orang yang taqwa, dan orang-orang yang benar-benar berbuat baik.

( QS. An-Nahl : 128 )

"Hanya karena merasakan kurnia rahmat Allah-lah kamu boleh bergembira, dan itulah yang lebih baik ( berguna ) bagi mereka daripada apa yang dapat mereka kumpulkan sendiri"

( QS. Yunus : 59 )

Firman Allah : "Dan tiadalah kamu berkehendak, kecuali apa yang dikehendaki Allah Tuhan yang mengatur seisi alam".

( QS. At-Takwir : 29 )

"Dan tiada kamu menghendaki kecuali apa yang dikehendaki oleh Allah. Sungguh Allah Maha Mengetahui lagi Bijaksana".

( QS. Al-Insaan : 30 )

Istirahatkanlah dirimu / fikiranmu daripada kerisauan mengatur kebutuhan duniamu, sebab apa yang sudah dijamin / diselesaikan oleh lainmu, tidak usah kau sibuk memikirkannya.

Kerajinanmu untuk mencapai apa-apa yang telah dijamin pasti akan sampai kepadamu, di samping keteledoranmu terhadap kewajiban-kewajiban yang diamanatkan ( ditugaskan ) kepadamu, membuktikan butanya mata hatimu.

Firman Allah : "Perintahkan kepada keluargamu supaya sembahyang, dan sabarlah dalam melaksanakannya, Kami (Allah) tidak menuntut kamu supaya mencari rizqi, Kami (Allah) yang menjamin rizqimu, dan akibat (kemenangan yang terakhir) bagi orang-orang yang bertaqwa".

( QS. Ath-Thaha : 132 )

"Hamba-KU, taatilah semua perintah-KU, dan jangan memberi-tahu kepada-KU apa yang baik bagimu, (atau jangan mengajari kepada-Ku apa yang menjadi hajat kebutuhanmu)".


Dalam menghadapi ujian Allah :

"Bilakah tibanya bantuan ( pertolongan ) Allah? Ingatlah, sesungguhnya bantuan pertolongan Allah telah hampir tiba".

( QS Al-Baqarah : 214 )

Apabila Tuhan membukakan bagimu suatu jalan untuk ma'rifat ( mengenal kepada-NYA ), maka jangan menghiraukan soal amalmu yang masih sedikit, sebab Tuhan tidak membukakan kepadamu, melainkan Ia akan memperkenalkan diri kepadamu. Tidakkah kau ketahui bahwa ma'rifat itu semata-mata pemberian karunia Allah kepadamu, sedang amal perbuatanmu hadiyah daripadamu, maka dimanakah letak perbandingannya antara hidayahmu dengan pemberian karunia Allah kepadamu.

"Kami ( Allah ) akan menguji kamu dengan kejahatan dan kebaikan, sebagai ujian, dan kepada Kami kamu kembali".

( QS. An-Anbiyaa' : 35 )

Ujian itu berupa sehat, sakit, kesukaran, kelapangan, kaya dan miskin. Untuk ujian kekuatan dan ketetapan beriman/ber-Tuhan kepada Allah sampai dimana syukurnya menerima nikmat dan bagaimana sabarnya menghadapi ujian kesukaran, bala.

"Dan Allah telah mengeluarkan kamu dari perut ibumu tidak mengetahui apa-apa, kemudian Allah memberi kepadamu pendengaran dan penglihatan serta fikiran ( dan perasaan ), supaya kamu bersyukur".

( QS An-Nahl : 78 )

"Dan Aku tidak mengakui kebersihan diriku, karena hawa nafsu itu selalu mengajak (menyuruh) berbuat kejahatan, kecuali bagi siapa yang mendapat rahmat (perlindungan) Tuhan, sungguh Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang".

( QS. Yusuf : 53 )

"Mungkin kamu enggan ( tidak menyukai ) sesuatu padahal itu baik bagimu".

( QS. Al-Baqarah : 216 )

"Mungkin kamu enggan ( tidak menyukai ) sesuatu, sedang Allah telah menjadikan pada apa yang tidak engkau sukai itu kebaikan yang sebanyak-banyaknya".

( QS. An-Nisaa' : 19 )

"Dan itulah, jahat sangkamu kepada Tuhanmu itulah yang membinasakan kamu".

( QS. As-Sajdah : 23 )

"Wa anna ila Rabbikal-muntaha" : "Sesungguhnya kepada Tuhanmu itulah puncak segala tujuan".

"Berdzikirlah kamu kepada-KU niscaya AKU berdzikir kepadamu".

( QS. Al-Baqarah : 152 )

"Bagi orang yang sempurna akal, ialah mereka yang selalu berdzikir kepada Allah sambil berdiri, duduk dan berbaring".

( QS. Al-Imraan : 191 )

Hadits Qudsy, Allah berfirman : "Aku selalu mengikuti sangkaan hamba-KU terhadap diri-KU, dan AKU selalu menyertainya ketika ia berdzikir kepada-KU".

Rasulullah bersabda : "Siapa yang merasa senang oleh amal kebaikannya, dan merasa sedih / menyesal atas perbuatan dosanya, maka ia seorang mukmin (beriman)".

"Tidak ada dosa besar jika disertai dengan Istighfar ( minta ampunan ), dan tidak dapat dianggap dosa kecil jika dikerjakan terus menerus".

"Jangan sampai terasa kebesaran sesuatu dosa itu, hingga dapat merintangi kepada engkau husnudh-dhan ( baik sangka ) terhadap Allah Ta'ala, sebab siapa yang benar-benar mengenal Allah Ta'ala, maka akan menganggap kecil dosanya itu disamping kemurahan Allah".

"Sesungguhnya Tuhan memberikan kepadamu warid ( yaitu ilmu pengertian atau perasaan hati, sehingga mengenal dan merasa benar-benar akan kebesaran kurnia rahmat Allah ), hanya semata-mata supaya kamu mendekat dan masuk kehadirat Allah".

"Nur ( cahaya-cahaya ) iman, keyakinan dan dzikir itu semua sebagai kendaraan yang dapat mengantarkan hati manusia kehadirat Allah serta menerima (mendapatkan) segala rahasia daripada-NYA".

"Nur ( cahaya terang ) itu sebagai pasukan yang membantu hati, sebagaimana (kubu) kegelapan itu pasukan yang membantu hawa nafsu. Maka apabila Allah akan menolong seorang hamba-NYA, dibantu dengan pasukan Nur Ilahi dan dihentikan bantuan kegelapan dan kepalsuan".

"Siapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka tidak ada yang dapat menyesatkannya. Dan siapa yang disesatkan oleh Allah, maka tidak ada yang dapat menunjukinya. Siapa yang diberi petunjuk ( hidayah ) oleh Allah maka ialah yang mendapat petunjuk hidayat, dan siapa yang disesatkan oleh Allah, maka tidak akan engkau dapatkan pelindung atau pemimpin untuknya.

"Maka ketika mereka telah melupakan apa yang telah diperingatkan kepada mereka. Kami bukakan bagi mereka segala jalan, sehingga apabila mereka mabuk gembira terhadap segala hasil usahanya. Kami tangkap dengan tiba-tiba, sehingga mereka mangalami dan merasa gagal total, dan putus harapan sama sekali".

( QS. Al-An'aam : 44 )

"Ketahuilah bahwa penghidupan dunia ini, hanya main-main, dan hiburan dan perhiasan, dan bangga-banggaan diatara kamu dan berlomba memperbanyak harta dan anak buah. Bagaikan air hujan yang mengagumkan petani hasil tanamannya, kemudian berubah menjadi kering, maka terlihat menguning warnanya, kemudian menjadi sampah ( bahan bakar ), sedang di akhirat tersedia siksa yang berat, disamping ada pula pengampunan Allah dan Keridoan-NYA. Dan tiadalah kehidupan dunia kecuali kesenangan yang menipu".

( QS. Al Hadid : 20 )

Rasulullah SAW bersabda : "Jauhkan dirimu dari tipuan dunia, niscaya Allah suka/kasih kepadamu. Dan jauhkan dirimu dari hak-hak orang, niscaya disukai orang".


Jangan Berputus Asa dan Jangan berprasangka Buruk pada Allah, Sesungguhnya Pertolongan Hampir Tiba, Bersabarlah.......

Sumber: Pengobatan Alternatif Terapi Nur Syifa' by Haji Mohammad Bambang Irawan S.